Senin, 17 Desember 2012

Surah an nur pelindung keluarga


Surah an nur  memang terkenal sebagai  doa pelindung ,namun keutamaannya sebenarnya sangatlah luas baik itu sebagai pengasihan ,pembuka rejeki maupun penyembuh penyakit hati.


Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (sesuatu), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nur/24: 35)”

Di dalam kitab Tasyhil dijelaskan : Bahwa makna sifat Nur Allah sulit digambarkan oleh pikiran manusia, maka dibuatlah perumpamaan seperti sifatnya misykat yang didalamnya ada pelita yang terang benderang karena sinarnya terhimpun disitu. Misykat itu ibarat hati orang mukmin, sedangkan hidayah itu adalah Nur Allah yang menuntun hati orang mukmin menuju jalan yang haq.

Dengan Nur itulah Allah akan membimbing menjadi ‘khusyu’, bertakwa, bergetar hatinya dikala disebut nama Allah, dan menenangkan hati, serta melapangkannya. Nur Allah itu bukan berwarna kuning, biru, atau yang putih berkilauan, sebab itu masih berupa apa yang bisa kita bayangkan. Sedangkan Nur Allah bukan berupa huruf, bukan suara, bukan wujud materi.

Seperti disebutkan didalam kitab Masyariq, bahwa Nur, ilham, wahyu, ialah sesuatu yang diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Dikehendaki dengan cepat ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan kedalam jiwa sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqaddimat-muqaddimatnya.

Itulah yang dimaksudkan Allah memberikan tuntunan dengan Nur-Nya. Nur di sini berarti ilham atau wahyu , intuisi, naluri. ( Almishbahu fii zujaajah), pelita itu terbuat dari kaca yang bening, seakan-akan bintang-bintang seperti mutiara, yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang di berkati. Dan mengandungi manfaat yang sangat banyak.

Laasyarqiyya wa la gharbiyyah ~ tidak tumbuh ditimur dan tidak juga di barat. Ayat ini menggambarkan bahwa Nur itu tidak bisa digambarkan sehingga tidak bisa dikatakan berada dimana dan bagaimana. Tidak barat juga tidak timur berarti tidak ada batas ruang waktu, tidak ada tempat..
Diibaratkan berada di ruang yang tidak ada apa-apa, misalnya berada di padang pasir yang luas, tidak ada gunung, tidak ada pohon, tidak ada goa, atau seperti kalau kita berada diruang angkasa, kita berada di luar pengaruh siang dan malam, tidak dibatasi oleh bumi dan planet lainnya maka kita akan berada di wilayah yang tidak ada barat, timur, atas, bawah, utara, selatan, tidak ada kemarin tidak ada akan datang , tidak ada hari isnin, selasa , bulan, januari, februari dll, yang ada kekinian atau keabadian .

Inilah penggambaran bahwa alam hakikat itu tidak di bisa dibatasi oleh ruang dan waktu serta batasan pikiran sempit manusia. Kita harus memasukinya bukan berada pada batas ruang dan waktu ~ karena kita akan menjadi kecil dan sempit.

Sebab pikiran dan perasaan tidak akan mampu menggambarkan (memberikan persepsi) atas keadaan hakikat kecuali kita mampu "memfanakan" diri dan alam semesta maka wajah Dzat yang ada . Karena rasa dan pikiran bukanlah sebuah ukuran untuk memberikan perbandingan yang amat luas dan tak terhingga, kasih sayang Allah tidak bisa di uraikan oleh keutuhan rasa manusia.

Selama ini kita hanya mengira atau menyangka (dzhan) bahwa kasih sayang dan kehebatan Allah itu bisa kita rasakan. Itu hanyalah anggapan bukan keadaan yang sebenarnya. Karena rasa manusia itu terlalu kecil untuk bisa menggambarkan kenyataan kasihsayang Allah.

Maka benarlah kita ini ternyata hanya bisa mengira dengan dzhan kita …inna dzhanni abdi …Aku menurut persangkaan hamba-hamba-Ku …..
... yukadu zaituha yudhi-u walaulam tamsashu naarun ~ yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (kalimat ini merupakan mubalaghah, didalam mensifati minyak yang sangat bersih dan bening apalagi kalau disentuh api)

Nurun ‘ala Nurin ~ Allah adalah Cahaya diatas cahaya .
Sesungguhnya telah terhimpun cahaya dan penutup lampu yang indah, minyak yang bersih maka sempurnalah cahaya yang diperumpamakan dengannya. Maka Allah-lah yang berada diatas segala cahaya, karena Dialah yang menggerakkan cahaya (ilham) kepada siapa saja yang dikehendaki .

Kesimpulan dari tafsir diatas dengan mempertimbangkan beberapa pendapat ulama masyhur seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Athoillah, Ibnu Qayyim dan kitab-kitab yang terkenal keshahihannya adalah bahwa kata "NUR" merupakan kata majazi yang bisa digunakan untuk penyebutan apa saja yang memiliki kelebihan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Surah An Nur adalah surah ke 24 dalam Al Qur’an. Surah ini berisi 64 ayat, dan merupakan surah Madaniyah, karena surah ini turun setelah Rasulullah hijrah di Madinah, sehingga kesepakatan ulama menyebut surah ini dengan nama surah Madaniyah.

Letak surah An Nur dalam urutan mushhaf berada di antara dua surah Makkiyah, yaitu surah Al Mu’minun dan surah Al Furqan. Sedangkan dari sisi turunnya, surah An Nur ini seperti yang dituturkan oleh Abdullah Ibnu Abbas, turun setelah surah An Nashr dan sebelum surah Al Hajj. Dalam riwayat lain menurut Ali bin Abi Thalhah, surah An Nur turun setelah surah Al Hajj dan sebelum surah Al Ahzab .
Kata nur berasal dari akar kata nara-nuran, yang berarti menerangi, semakna dengan kata anara, nawwara, istanaara.

Dalam bentuk kata benda yang memiliki kedekatan makna dengan kata nur adalah kata nar (api), yaitu unsur alamiah yang aktif mengeluarkan cahaya, panas, dan membakar, sering disebut juga dengan al lahab, ketika menjilat-jilat.

Sedang kata nur berarti cahaya, yaitu penerang yang menjelaskan sesuatu sehingga terlihat hakekat yang sesungguhnya.

Kandungan surah an nur


Surat ini sebagian besar memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan persoalan rumah tangga dan kemasyarakatan dengan berlandaskan Iman yang benar.
Kandungan yang terdapat dalam surah An Nur ialah masalah keimanan, syari’ah (hukum), dan kisah.

A. AL IMAN (KEIMANAN)
Dasar-dasar keimanan yang ada dalam surah An Nur ini meliputi :
1. Iman kepada Allah
Iman kepada Allah dalam surah An Nur ini disampaikan dengan menjelaskan Allah sebagai :
   a. Dzat yang telah menurunkan Al Qur’an, seperti yang dijelaskan pada ayat 1, 34, dan 46.
   b. Pemberi cahaya langit dan bumi, terdapat pada ayat 35.
   c. Penguasa langit dan bumi terdapat dalam ayat 42, 43,44, 45, dan 64.
2. Iman kepada hari akhir/hari kiamat, ditegaskan dalam ayat 23-25.
3. Iman kepada Rasul, dalam surah An Nur ini disampaikan dengan menjelaskan Rasul sebagai :
   a. Penerima wahyu Allah, terdapat pada ayat 1, dan 34.
   b. Adab berkomunikasi dengan Rasulullah, terdapat pada ayat 62, 63.
   c. Sikap kaum munafik terhadap Rasulullah, terdapat pada ayat 47 dan 50.
4. Keadaan orang-orang kafir di hari kiamat, dijelaskan pada ayat 39, 40.
5. Mentaati Allah dan rasul-Nya, ditegaskan pada ayat 51 sampai 54.
6. Landasan negeri beriman, dijelaskan pada ayat 55 sampai 57.
7. Proses penciptaan dan kehidupan hewan, dijelaskan pada ayat 45.

B. SYARI’AH (HUKUM-HUKUM)
1. Hukum zina, terdapat pada ayat 2-3.
2. Hukum qadzf (menuduh orang lain berbuat zina), terdapat pada ayat 4-5.
3. Hukum li’an (suami yang menuduh istrinya berbuat zina), terdapat pada ayat 6-10.
4. Izin sebelum memasuki rumah, terdapat pada ayat 27-29, 57-60.
5. Hukum Pandangan dan Hijab, terdapat pada ayat 30-31.
6. Hukum pernikahan terdapat pada ayat 32-34.
7. Makan di rumah orang tanpa izin, terdapat pada ayat 61.

C. AL QISHSHAH (KISAH)
Berita palsu tentang Aisyah, terdapat pada ayat 11 sampai 26.
Pengertian Madaniyah dengan mengatakan sebagai ayat yang turun sesudah hijrah Nabi ke Madinah adalah pengertian yang populer di kalangan ulama ulumul-Qur’an, meskipun ayat itu turunnya di Makkah. Seperti ayat 58 surah An Nisa yang turun pada saat Fathu Makkah, atau ayat 3 surah Al Maidah. Lawannya adalah Makkiyah, yaitu ayat yang turun sebelum Nabi hijrah.

Pertimbangan lain adalah tempat turunnya ayat itu. Makkiyah adalah yang turun di Makkah dansekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah, sedangkan Madaniyyah adalah yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud dan Quba’. Pembagian ini menimbulkan adanya beberapa ayat yang tidak dapat masuk dalam dua kelompok itu. Seperti ayat yang turun di Tabuk, atau Baitul Maqdis. Dan pembatasan ini menuntut terjadinya ayat yang turun Makkah sesudah hijrah Nabi disebut pula Makkiyah.

Surah an nur pelindung keluarga


Surah An Nur merupakan salah satu surah dalam Al Qur’an yang menekankan pada perlunya pembentukan masyarakat saleh secara operasinal yang dimulai dengan pembentukan pribadi, dan keluarga yang saleh.
Dari itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan pesan khusus pengajaran surah ini kepada kaum wanita yang akan menjadi pengelola rumah tangga.

Said ibn Mansur, Ibnu Al Mundzir, dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Mujahid berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: Ajarkan kepada para laki-laki kalian surah Al Ma’idah. Dan ajarkan kepada para wanita kalian surah An Nur.

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang membaca surat An-Nur, ia diberi pahala sepuluh kebaikan, dengan jumlah setiap mukmin dan mukminah yang ada di zaman yang lalu dan mendatang.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 3: 567)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Janganlah kamu mengajarkan surat Yusuf kepada isterimu (juga anak perempuanmu), dan janganlah kamu membacakannya pada mereka, karena di dalamnya terdapat fitnah. Ajarkan pada mereka surat An-Nur, karena di dalamnya terdapat nasehat-nasehat.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 3: 568)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Jagalah hartamu dan kemaluanmu dengan membaca surat An-Nur; jagalah istrimu dengannya. Barangsiapa yang rajin membaca surat An-Nur setiap hari atau setiap malam, maka keluarganya akan terjaga dari perzinaan selamanya sehingga ia meninggal. Jika meninggal, ia akan diikuti ke kuburnya oleh seribu malaikat, semuanya mendoakan dan memohonkan ampunan untuknya sehingga ia dimasukkan ke kuburnya.” (Tafsir Ats-Tsaqalayn 3: 567)

Perumpamaan cahaya Allah dalam hati orang-orang mukmin bagaikan sebuah misykat ( kamisykatin fiha misbahun / cerukan pada dinding yang didalamnya terdapat pelita, yaitu cahaya yang terhimpun di dalam misykat yang mengakibatkan cahaya itu bersinar amat terang sekali .

Seperti matahari merupakan Nur bagi langit, si fulan adalah Nur bagi negerinya karena ia adalah anak yang telah membawa nama harum bangsanya serta pengabdiannya yang tidak ternilai.

Rasulullah adalah Nur bagi ummat yang keadaannya sangat jahiliyyah, sehingga Syekh Al barzanji menulis syair untuk beliau " anta syamsu anta badru anta nurun fauqa nurin, engkau adalah matahari, engkau adalah bulan dan engkau adalah cahaya yang terang diatas segala cahaya.

Alqur’an juga di sebut An Nur, karena merupakan firman Allah yang memberikan jalan kebenaran dan tuntunan hidup bagi manusia.

Ilham merupakan Nur dari Allah, disebut Nur karena merupakan pencerah hati dari yang gelap dan buta menjadi faham dengan ilmu pengetahuan.

Gambaran ayat diatas adalah menerangkan keadaan hati orang mukmin yang terang setelah mendapatkan pencerahan dari Allah berupa ilham atau hidayah. Cahaya yang dimaksudkan bukanlah Dzat Allah akan tetapi ilham/ hidayah. Dan Allah menggelari dirinya sebagai Nur diatas Nur (Nurun ‘ala Nurin), yaitu Cahaya Yang menggerakkan Cahaya, yang menciptakan cahaya (bintang-bintang), menurunkan cahaya-cahaya yang menerangi ummat (rasul-rasul), memancarkan cahaya berupa ilham atau intuisi yang menerangi kebodohan (Al ilmu nurun / ilmu itu cahaya), cahaya-cahaya tersebut bukanlah Dzat Tuhan, dan barang siapa menyembah kepada cahaya-cahaya tersebut berarti telah terjebak kepada cahaya yang diciptakan Tuhan.
Kita disuruh mencari sumber cahaya yaitu Nurun ‘Ala Nurin, Cahaya diatas Cahaya. Wallahu a’lam

Sekian dulu dari saya,semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

bagi anda yang merasa mempunyai beberapa masalah dalam kehidupan anda bisa melihat

Doa Penyembuh,Doa pengasihan,doa pelindung dan pembuka rejeki yang di berikan dengan ijazah khusus dapat anda lihat di Doa mustajab

Dengan harapan dari sekian banyak jenis doa yang saya ijazahkan secara khusus ada yang sesuai dengan masalah anda...amiin


Wasalam

Fathul ahadi

1 komentar:

Muhammad Rasya mengatakan...

makasih ya,,, ini sangat membatu saya dalam pelajaran Ilmu Tafsir saya..... visit back,,,

Untung Shop | Toko Online Murah
Iklan Untung | Iklan Baris Gratis
RasyaShare | Tempat Berbagi Segalanya

Hubungi Penulis

Name *
Email *
Pelihal *
pesan *
Powered byEMF HTML Form
Report Abuse